Archive for the ‘Hari ini’ Category

Fenomena Tanjung Api

Tanjung Api adalah sebuah tanjung yang terletak di Teluk TominiAmpanaTojo Una-Una. Lokasi ini dapat ditempuh dengan berjalan kali selama 5 jam atau dengan speed boat selama 20 menit.

Keunikan dari tanjung ini adalah adanya gas alam yang keluar secara alami di sepanjang tanjung ini. Dengan menggali sekitar 5-10 cm, maka akan keluar gas alam yang dapat kita nyalakan dengan korek api. Api ini akan menyala terus sampai kita menutupnya kembali dengan tanah.

Nama Tanjung Api diambil dari nama api unik yang ada di objek wisata ini. Para wisatawan yang akan berkunjung di objek wisata ini akan menyaksikan api unik yang menyembur dari bawah pasir. Para wisatawan yang berkunjung di Tanjung Api ini, tidak perlu lagi membawa korek api. Jika ingin memasak air atau menanak nasi, cukup dengan menggali pasir, maka api akan menyembur seketika dari bawah pasir dan siap untuk dipakai memasak.

Tanjung api selain memiliki api yang unik, juga memiliki panorama bawah laut yang indah dan sangat cocok untuk atraksi snorkeling. Selain itu, Tanjung api juga memiliki pasir putih yang bersih dan alami untuk menikmati mandi matahari maupun menikmati pemandangan sunset. Objek wisata ini yang di tetapkan oleh Pemerintah sebagai salah satu cagar alam di Sulawesi Tengah

Objek wisata ini memiliki hutan tropis yang masih alami serta hewan endemik seperti anoa, babi rusa, monyet dan berbagai jenis burung. Olehnya Tanjung api juga sangat potensial untuk atraksi trekking. Tanjung api secara administratif berada di 2 (dua) wilayah Kecamatan yaitu Ampana Kota dan Ampana Tete. Untuk berkunjung ke Tanjung Api dapat dilakukan dengan motor boat dari Pelabuhan Ampana dengan waktu tempuh 30 menit.

Advertisements

Menyelamatkan Kepulauan Togean

Sebagai pejabat baru di sebuah Kabupaten Baru Tojo Una-Una, Drs. Damsik Ladjalani (52 tahun) merasa prihatin dengan keadaan di daerahnya. Selain tingkat rata-rata pendidikan yang jauh tertinggal, pendapatan perkapita ekonomi yang masih rendah, juga pembangunan infra struktur yang menurutnya kurang memadai untuk sarana penduduknya.

“Kalau ada kontak kepada pemerintah pusat tolonglah, infra struktur dibangun dan didahulukan,” kata Damsyik Ladjalani, yang mengira sebuah media yang bisa menjembatani keluhan di daerahnya.

Salah satu obsesi Bupati kelahiran Una-una ini adalah, supaya kabupaten yang dipimpinnya segera memiliki lapangan pesawat terbang. “Tanah sudah kami siapkan di Ampana, supaya wisatawan mempunyai akses untuk melihat terumbu karang di Kepulauan Togean,” katanya.

ota Ampana adalah ibu kota kabupaten Tojo Una-Una (Touna) yang berjarak 150 km dari Kota Palu, ibukota provinsi Sulawesi Tengah. Bila seorang wisatawan menggunakan kendaraan travel, waktu yang dihabiskan adalah sembilan jam. Belum lagi harus ikut kapal kecil menuju obyek wisata laut di Kepulauan Togean untuk menikmati keindahan bawah laut dengan terumbu karang yang berwarna warni.

Sikap ingin segera memajukan daeranya ini pula yang menyebabkan bupati secara terbuka menyambut hangat kedatangan Tim Pengkajian Terpadu Peninjau Usulan Taman Wisata di Kepulauan Togean pertengahan September lalu.

Sebetulnya Kepulauan Togean sudah lama dikenal sebagai tempat tujuan wisata bahari yang menakjubkan, Cuma, kawasan ini ternyata hingga kini belum mempunyai status konservasi yang jelas. Melihat kecendrungan perikanan yang tidak ramah lingkungan dengan penggunaan bom, bius dan potas, kelak, apabila kawasan ini tidak diselamatkan, akibatnya akan semakin rusak. Oleh karena itu Gubernur Sulawesi Tengah Aminuddin Ponulele menyurati Menteri Kehutanan, untuk mengusulkan penetapan kawasan Kepulauan Togean, seluas 411.373 ha di Kepulauan Togean Sebagai Taman Wisata Laut. Surat tertanggal 21 Pebruari 2004, itu pun kemudian juga didukung oleh Surat Bupati Tojo Una Una, Sulawesi Tengah, dengan pernyataannya tanggal 27 Pebruari 2004.

Lantas untuk menjawab hal itu, tim khusus terdiri gabungan antar instansi yaitu Badan Planologi Kehutanan (BAPLAN), Puslitbang Kehutanan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Conservation International Indonesia, datang ke Kepulauan Togean untuk mengadakan peninjauan lapangan. (Lihat: Rekomendasinya, Taman Nasional Laut).

Bupati menuturkan, sebagian penduduk di wilayahnya memang masih bertumpu pada keberadaan sumberdaya kelautan dan untuk menggali hasil yang lebih besar mereka masih belum bisa membuat peluang. Oleh sebab itu, bupati merasa geram dengan para pelaku bom dan peracunan yang merusak ekosistem perairan di Kepulauan Togean. “Prioritas kita adalah program menyelamatkan lingkungan di Kepulauan Togen, menyadarkan masyarakat dari kebiasaan mereka yang merugikan masa depan mereka sendiri,” kata Ladjalani. Alasannya jelas, karena pemboman, pembiusan dan potassium merupakan ancaman bagi seluruh sumber kehidupan kawasan Kepulauan Togean. “Racun dan bom itu mengakibatkan kehidupan di laut musnah, terumbu karang hancur, dan itu saya saksikan sendiri,” ujarnya.

Padahal suku Bajau, terang bupati, mempunyai prinsip-prinsip sendiri guna menjaga lingkungan. Mereka mengatakan: terumbu karang itu adalah tikar, ombak adalah laksana guling. Maka ketika berkunjung ke lapangan , bupati membangkitkan kembali ingatan penduduk Bajau mengenai harta yang mereka miliki itu. Bupati beceramah di depan masyarakat, “Mengapa kamu punya tikar, kamu punya guling, kamu rusak? Sebenarnya kalau hujan, di atas laut, itu artinya langit menangis karena melihat kalian membom ikan,” kata bupati dalam salah satu kunjungannya di daerah Kepulauan Togean.

Bagi masyarakat Togean keutuhan ekosistem laut adalah modal hidup. Apabila ekosistem laut lestari, mereka diharapkan dapat terus melanjutkan kehidupan mereka. Sebab itulah dalam benak Damsik, menyadarkan masyarakat Bajau bukan hanya dengan kata-kata tapi seharusnya dengan program yang nyata. Diharapkannya nelayan yang tadinya setiap saat menggantungkan hidup di laut, mulai berpindah pada budidaya ikan, atau hasil laut lainnya seperti teripang dan ikan Kerapu. Melihat rumah masyarakat Bajau yang berada di tengah laut, untuk membuat keramba dan pembesaran ikan bukanlah perkara sulit. Sebagai percobaan bupati memberikan modal kepada kepala desa Kabalutan untuk mencoba keramba ikan dibawah kolong rumah mereka.

Selain itu, dia juga mencita-citakan rumah-rumah suku bajau bisa dibuat layak untuk wisatawan yang datang sehingga mereka bisa menerima tamu dengan cara home stay. Satu keluarga bisa menyiapkan satu kamar kalau ada turis datang dengan membayar beberapa dolar per malam. Dengan cara itu, mestinya, masyarakat akan menemukan alternative baru insentif ekonomi pengganti sambil secara serius menjaga dan memelihara terumbu karang sebagai ‘tikar’ kehidupan mereka di Kepulauan Togean.

APBD Touna Sisa Rp5 Miliar

AMPANA – Sebelum menyetujui Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati dan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) perhitungan APBD untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah (Perda) tahun anggaran 2006, DPRD Kabupaten Touna melakukan proses pembahasan dan peninjauan kegiatan Pemda selama tahun anggaran 2005 setelah dievaluasi oleh Gubernur Sulteng.

Demikian diungkapkan Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Touna, Drs Abd Wadji Tahero kepada Radar Sulteng, kemarin (4/10). Menurutnya, sebagai kabupaten yang baru dimekarkan dari Kabupaten Poso, merupakan tahun pertama dilakukan perhitungan APBD. Ini sesuai dengan amanat perundang-undangan yang dengan segala keterbatasan Pemda Touna bersama dengan DPRD selaku mitra pemerintah telah melakukan tugas dan fungsinya dengan baik.

”Menberikan koreksi, saran-saran perbaikan atas pelaksanaan APBD sehingga diharapkan dalam pelaksaan akan datang dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan harapan masyarakat Tuona,” tegas Abd Wadji Tahero.

 

Lebih lanjut katanya, melalui sidang paripurna DPRD belum lama ini, telah ditetapkan keputusan Dewan Kab. Touna tentang persetujuan dan penetapan LKPJ Bupati Touna dan perhitungan APBD tahun 2005 dengan pendapatan PAD, dana perimbangan lain-lain, penerimaan daerah yang telah ditargetkan sebesar Rp103 miliar lebih.

 

Belanja daerah direncanakan sebasar Rp97 miliar lebih, pembiayaan ditetapkan Rp812 juta lebih. Dengan demikian katanya, pada tahun 2005 mempunyai sisa Rp5 miliar lebih. Selaku kepala BPKD Kab Touna mengatakan, sangat menghargai kerjasama yang baik dan saran-saran positif yang telah disampaikan oleh DPRD Touna pada sidang paripurna, Sabtu (30/9) yang lalu di Gedung Dewan Tuona.

PBB Touna Lampaui Target

AMPANA- Rapat Koordinasi (Rakor) tim intensifikasi PBB, BPHPTB, PPH OPDN/PPh Provinsi dan Kabupaten/kota se Sulteng dipusatkan di Ampana, kemarin (15/11). Rakor tersebut dibuka Asisten I Administrasi Sulteng, Arif Sandagang dan dihadiri peserta dari Kanwil Dirjen Pajak Sulteng, Kepala Pajak dan Pelayanan PBB Kabupaten/Kota, Kepala Kantor Pajak Palu, Luwuk dan jajaran Muspida lainnya.

Wabup Touna, Drs. Ridwan DJ Saru menyampaikan ucapan terima kasih kepada pejabat provinsi dan para peserta rakor yang telah datang dan semoga rakor ini dapat menghasilkan keputusan-keputusan sebagaimana diharapkan bersama sesuai dengan agenda rakor tim intesifikasi PBB tahun ini.

Tojo Unauna kata Wabup secara administrasi Touna terdiri atas 9 kecamatan dengan perincian, 5 kecamatan didaratan dan 4 kecamatan di kepulauan.

Disampikan pula bahwa Kab. Touna mulai tahun 2005 mengelola APBD sendiri dan sejak itu pula Kab Poso sebagai induk menyerahkan pengelolaan PBB, BPHTB dan PPh untuk masyarakat tahun 2005-2006 Kab Touna dibawah koordinasi Badan pengelola Keuangan Daerah (BPKD) telah melampaui target PBB (100%) lebih berdasarkan target SKB. Dengan demikian Kab Touna sebagaimana yang diamanatkan dalam UU Nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemda, akan menerima intensif atas pencapaian target tahun 2005 maupun 2006.

Sementara Asisten I administrasi Sulteng, Arif Sandagang mengatakan, Rakor ini dilaksanakan untuk mengevaluasi kinerja pendapatan dari penerimaan PBB, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan dan pajak penghasilan perseorangan tahun anggaran 2006. menyongsong tantangan kedepan yang semakin kompleks dibidang perpajakan ini, agar dilaksanakan secara baik pemutahiran data, penyampaian SPPT, perlu segera dilaksanakan secara tepat waktu

Pemerintah Pusat Kucurkan Rp. 68 Miliar Pulihkan Poso & Tojo Una-Una

Menurut Menteri Bachtiar Chamsyah pada pemaparan Program Keserasian Sosial di VIP Room Bandara Mutiara Palu, sebelum bertolak melanjutkan perjalanan dinas di Kabupaten Poso bersama KASAD Djoko Santoso, 2 Nopember 2006 mengatakan, seluruh dana tersebut di peruntukkan pada Tahun Anggaran 2006 ini. Pemerintah tidak menentukan jenis usaha peningkatan ekonomi yang mesti dijalani masyarakat Poso dan Tojo Una-una, sehingga masyarakat dapat memilih sendiri usaha-usaha ekonomi produktif yang dapat menjamin keberlangsungan hidupnya.

Biasanya jenis usaha tergantung lokasi domisili warga, jika tinggal di daerah pantai berarti butuh alat penangkap ikan, dan jika perdagangan di pasar, berarti butuh modal usaha. Prinsipnya, pemerintah hanya menyediakan dana segar,” katanya menambahkan.

Sementara itu, Direktur Jendral (Dirjen) Bantuan Jaminan Sosial Depsos. Rozali Sitomorang, menjelaskan sebanyak 900 KK (Kepala Keluarga) di Kabupaten Poso dan 909 KK di Kabupaten Tojo Una-una akan mendapat bantuan program Keserasian Sosial Bantuan Korban Bencana Kerusuhan dan eks pengungsi.
Warga penerima bantuan di Poso tersebar di Kelurahan Gebang Rejo sebanyak 317 Kepala Keluarga (KK), Kelurahan Kayamanya (27 KK), Keluran Kawua (32 KK), Desa Mapane (65 KK), Desa Silanca (73 KK), Desa Pamona (351 KK), Desa Petirodongi (35 KK).

Sementara itu, menurut dia, di Kabupaten Tojo Una-una tersebar di Desa Matako sebanyak 327 KK, Desa Galuga (14 KK), Desa Tanawu ( 72 KK ), Desa Malewa ( 140 KK ), Desa Korondoda ( 72 KK ), Desa Malewa ( 127 KK ), Desa Dataran Bugi ( 100 KK ).

Saat konflik Poso pecah akhir tahun 1998, wilayah Kabupaten Tojo Una-una masih bahagian dari Kabupaten Poso.

Situmorang mengatakan, setiap keluarga penerima bantuan akan mendapatakan uang tunai Rp. 4 juta atau bentuk lain yang senilai, bantuan ini untuk pemberdayaan atau penguatan ekonomi eks pemgungsi. Selain itu, setiap keluarga penerima bantuan juga akan mendapat dana pembiayaan kegiatan fisik maupun non fisik Rp. 5,68 juta, dengan mekanisme swakelola oleh penerima bantuan dan masyarakat lokal. Total dana yang dialokasikan untuk membiayai 1.809 paket kegiatan mencapai Rp. 10, 275 miliar. Bentuk kegiatan direncanakan, diputuskan dan dilaksanakan secara bersama-sama dengan bantuan pendamping.

Ia juga menyatakan, pihaknya menjamin potensi penyimpangan bantuan dana program keserasian tersebut sangat kecil sebab mekanisme yang diterapkan sangat ketat, nama dan alamat penerima bantuan sudah diteliti lebih awal sehingga mencegah adanya penerima fiktif.

Bantuan paket kegiatan kepada kelompok masyarakat menggunakan sistem kupon (voucher) yang pencairan dananya dilakukan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI) setempat. Dengan pola ini dapat memperkecil kebocoran dana bantuan sosial tersebut

Warga Poso Dan Ampana Serahkan Senjata Api Rakitan

    EMPO Interaktif, Poso: Batalyon Infanteri (Yonif) 714 Sitiwu Maroso, Poso, Kamis ini menerima Sembilan senjata api (senpi) rakitan dari Warga Poso dan Ampana. Sembilan senjata rakitan itu terdiri dari tujuh pucuk laras panjang dan dua pucuk laras pendek. Selain senjata, warga juga menyerahkan 150 butir amunisi dari berbagai jenis dan kaliber.

Komandan Yonis 714 Letkol Inf Try Setyo mengatakan, Warga Poso telah memperlihatkan tingkat kesadaran tinggi akan pentingnya rasa aman. Buktinya tanpa penyisiran dan operasi pencarian senjata warga datang langsung menyerahkan senjata.

Menurut Try, memang butuh waktu untuk menumbuhkan kesadaran warga untuk menyerahkan senjata. “Senjata dan amunisi ini kami peroleh dengan proses yang panjang. Tidak secara tiba-tiba,” ujar perwira yang memiliki tanda dua bunga melati di pundak itu. M. Darlis

Advertisements