Menyelamatkan Kepulauan Togean

Sebagai pejabat baru di sebuah Kabupaten Baru Tojo Una-Una, Drs. Damsik Ladjalani (52 tahun) merasa prihatin dengan keadaan di daerahnya. Selain tingkat rata-rata pendidikan yang jauh tertinggal, pendapatan perkapita ekonomi yang masih rendah, juga pembangunan infra struktur yang menurutnya kurang memadai untuk sarana penduduknya.

“Kalau ada kontak kepada pemerintah pusat tolonglah, infra struktur dibangun dan didahulukan,” kata Damsyik Ladjalani, yang mengira sebuah media yang bisa menjembatani keluhan di daerahnya.

Salah satu obsesi Bupati kelahiran Una-una ini adalah, supaya kabupaten yang dipimpinnya segera memiliki lapangan pesawat terbang. “Tanah sudah kami siapkan di Ampana, supaya wisatawan mempunyai akses untuk melihat terumbu karang di Kepulauan Togean,” katanya.

ota Ampana adalah ibu kota kabupaten Tojo Una-Una (Touna) yang berjarak 150 km dari Kota Palu, ibukota provinsi Sulawesi Tengah. Bila seorang wisatawan menggunakan kendaraan travel, waktu yang dihabiskan adalah sembilan jam. Belum lagi harus ikut kapal kecil menuju obyek wisata laut di Kepulauan Togean untuk menikmati keindahan bawah laut dengan terumbu karang yang berwarna warni.

Sikap ingin segera memajukan daeranya ini pula yang menyebabkan bupati secara terbuka menyambut hangat kedatangan Tim Pengkajian Terpadu Peninjau Usulan Taman Wisata di Kepulauan Togean pertengahan September lalu.

Sebetulnya Kepulauan Togean sudah lama dikenal sebagai tempat tujuan wisata bahari yang menakjubkan, Cuma, kawasan ini ternyata hingga kini belum mempunyai status konservasi yang jelas. Melihat kecendrungan perikanan yang tidak ramah lingkungan dengan penggunaan bom, bius dan potas, kelak, apabila kawasan ini tidak diselamatkan, akibatnya akan semakin rusak. Oleh karena itu Gubernur Sulawesi Tengah Aminuddin Ponulele menyurati Menteri Kehutanan, untuk mengusulkan penetapan kawasan Kepulauan Togean, seluas 411.373 ha di Kepulauan Togean Sebagai Taman Wisata Laut. Surat tertanggal 21 Pebruari 2004, itu pun kemudian juga didukung oleh Surat Bupati Tojo Una Una, Sulawesi Tengah, dengan pernyataannya tanggal 27 Pebruari 2004.

Lantas untuk menjawab hal itu, tim khusus terdiri gabungan antar instansi yaitu Badan Planologi Kehutanan (BAPLAN), Puslitbang Kehutanan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Conservation International Indonesia, datang ke Kepulauan Togean untuk mengadakan peninjauan lapangan. (Lihat: Rekomendasinya, Taman Nasional Laut).

Bupati menuturkan, sebagian penduduk di wilayahnya memang masih bertumpu pada keberadaan sumberdaya kelautan dan untuk menggali hasil yang lebih besar mereka masih belum bisa membuat peluang. Oleh sebab itu, bupati merasa geram dengan para pelaku bom dan peracunan yang merusak ekosistem perairan di Kepulauan Togean. “Prioritas kita adalah program menyelamatkan lingkungan di Kepulauan Togen, menyadarkan masyarakat dari kebiasaan mereka yang merugikan masa depan mereka sendiri,” kata Ladjalani. Alasannya jelas, karena pemboman, pembiusan dan potassium merupakan ancaman bagi seluruh sumber kehidupan kawasan Kepulauan Togean. “Racun dan bom itu mengakibatkan kehidupan di laut musnah, terumbu karang hancur, dan itu saya saksikan sendiri,” ujarnya.

Padahal suku Bajau, terang bupati, mempunyai prinsip-prinsip sendiri guna menjaga lingkungan. Mereka mengatakan: terumbu karang itu adalah tikar, ombak adalah laksana guling. Maka ketika berkunjung ke lapangan , bupati membangkitkan kembali ingatan penduduk Bajau mengenai harta yang mereka miliki itu. Bupati beceramah di depan masyarakat, “Mengapa kamu punya tikar, kamu punya guling, kamu rusak? Sebenarnya kalau hujan, di atas laut, itu artinya langit menangis karena melihat kalian membom ikan,” kata bupati dalam salah satu kunjungannya di daerah Kepulauan Togean.

Bagi masyarakat Togean keutuhan ekosistem laut adalah modal hidup. Apabila ekosistem laut lestari, mereka diharapkan dapat terus melanjutkan kehidupan mereka. Sebab itulah dalam benak Damsik, menyadarkan masyarakat Bajau bukan hanya dengan kata-kata tapi seharusnya dengan program yang nyata. Diharapkannya nelayan yang tadinya setiap saat menggantungkan hidup di laut, mulai berpindah pada budidaya ikan, atau hasil laut lainnya seperti teripang dan ikan Kerapu. Melihat rumah masyarakat Bajau yang berada di tengah laut, untuk membuat keramba dan pembesaran ikan bukanlah perkara sulit. Sebagai percobaan bupati memberikan modal kepada kepala desa Kabalutan untuk mencoba keramba ikan dibawah kolong rumah mereka.

Selain itu, dia juga mencita-citakan rumah-rumah suku bajau bisa dibuat layak untuk wisatawan yang datang sehingga mereka bisa menerima tamu dengan cara home stay. Satu keluarga bisa menyiapkan satu kamar kalau ada turis datang dengan membayar beberapa dolar per malam. Dengan cara itu, mestinya, masyarakat akan menemukan alternative baru insentif ekonomi pengganti sambil secara serius menjaga dan memelihara terumbu karang sebagai ‘tikar’ kehidupan mereka di Kepulauan Togean.

2 responses to this post.

  1. Assalamu’alaikum
    Saya ingin membuat film dokumenter tentang penduduk suku bajo di pulau kabalutan. bisa minta no telpon pak bupati touna ngga?
    Terima Kasih
    Mohammad Hamdi – Jakarta

    Reply

  2. Posted by ampana on October 19, 2008 at 12:29 am

    waalaikumsallam…
    kalo untuk pembuatan film pasti bisa mas hamdi..
    cuman kalo untuk no telp saya blom tau..
    mas hamdi bisa langsugn kirim proposal aja ke bupati touna..
    pasti ada respon yang positive..

    makasih..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: